Langsung ke konten utama

Renungan siang, 16 Juni 2020

Pertama saya awali dengan jadwal rutin yang biasa kita lakukan, katakanlah saya pada saat ini sedang bekerja disebuah instansi, yang bisa dikatakan instansi ini cukup terjadwal sehingga hampir sebagian besar rutinitas dan pola pekerjaannya dapat dibaca dengan sangat baik, artinya didalam instansi ini tidak begitu banyak dinamika - dinamika baru yang biasanya cukup membuat kita - kita terdadak karena seringkali bersifat kejutan. sehingga kami cukup merasa nyaman dengan hal itu, meskipun dalam hati, hal tersebut sangat bertentangan dengan tuntutan tugas tugas satuan tempur jikalau nanti kita mendapatkan tugas-tugas yang mengharuskan untuk siap menghadapi segala macam dinamika yang sewaktu-waktu dapat terjadi dan mengharuskan kita untuk terjun didalamnya,
.
.
tapi berbicara masalah instansi pada dasarnya setiap instansi memiliki tingkat kegiatan dan kesiapsiagaan yang disesuaikan dengan tingkat urgenitasnya, sehingga menurut saya memang semuanya harus disesuaikan dengan porsi masing-masing berdasarkan tuntutan tugasnya, singkat kata jika kondisi instansi saya yang mengharuskan kita mengikuti pola kegiatan yang tidak banyak dinamika, sudah seharusnya kita menyadari bahwa itu merupakan bagian tuntutan organisasi yang memang harus kita ikuti, justru jika kita tidak mengikuti pola tersebut, maka secara tidak langsung optimalisasi terhadap mekanisme kegiatan yang sudah terpola akan menjadi tidak optimal. Dengan demikian kita harus merubah mind set yang awalnya sebagian besar masih diperngaruhi oleh lingkungan tugas sebelumnya, segera menyesuaikan dengan tuntutan tugas dan karakteristik satuan dimana kita ditugaskan, karena dengan demikian kita akan mampu membaca urgenitas setiap permasalahan yang harus kita optimalkan.
.
Selanjutnya pembelajaran bagi saya pribadi bahwa menjadi seorangan komandan itu sangat gampang tetapi untuk menjadi seorang pemimpin itu membutuhkan banyak hal, salah satunya memilih metode kita dalam memimpin itu sebuah persoalan tersendiri yang tidak mudah untuk ditentukan dan dijawab, banyak faktor yang mempengaruhinya, sebagai contoh pemimpin harus paham kapan dan dimana dia memimpin, karena setiap pemimpin dibatasi oleh ruang dan waktu, kata pak TB Silalahi "Pemimpin itu ada tempat dan waktunya", sehingga untuk dapat diterima sebagai seorang pemimpin menurut hemat saya kita harus paham betul dimana kita memimpin, kalo pemimpin itu lebih cenderung pada sebuah kebijakan, beda halnya dengan komandan, jikalau untuk menjadi seorang komandan, cukup lah aturan sebagai pedoman kita, namun didalam kenyataaannya aturan tidak selamanya dapat menyelesaikan masalah, semua butuh sentuhan-sentuhan kepemimpinan agar tujuan pokok dapat tercapai. 
.
Sekarang kita kembalikan lagi apakah semua kebijakan yang kita keluarkan sudah menyentuh apa arti dari sebuah kepemimpinan, atau justru hanya sekedar menegakkan aturan saja. Dan menurut saya itu itu adalah sebuah pilihan, saya yakin semua punya basic dan kemampuan untuk melakukan itu semua, tapi tidak banyak Komandan yang mau untuk menyeimbangkan fungsi pemimpin dan fungsi komandan
.
Jika masih bertanya-tanya, mungkin saya ada sedikit hal sebagai bahan masukan dan saran bagi para pembaca yang kebetulan sempat meluangkan waktu untuk membaca tulisan ga jelas saya ini, saran saya, dengan keadaan dan kondisi kita saat ini yang tidak banyak tau dan tentunya kita tidak semuanya memiliki pengalaman tugas yang sama, sehingga alangkah baiknya jika kita banyak mencari tahu tentang apa yang menurut kita penting didalam mendukung proses transformasi komandan menjadi seorang pemimpin, dan yang paling penting jangan pernah menggunakan asumsi pribadi berdasarkan pengalaman tugas sebagai acuan, sehingga kita perlu untuk mencari sudut pandang lain sebagai bahan pembanding, karena tentunya subyektivitas tidak akan pernah menjadi obyektif tanpa kita merubah sudut pandang subyektivitas kita menjadi obyektif.
.
Tentunya dengan kita banyak mengumpulkan sumber keterangan, setidaknya akan membuka wawasan berpikir kita yang semula bersifat subyektif menjadi obyektif.
.
Mohon maaf jika banyak salahnya, selaku "commoner" orang biasa yang tentunya tidak luput dari kesalahan saya meminta maaf yang sebesar-besarnya, dan yang paling penting tulisan ini pure sebagai pengingat saya sendiri jikalau saya mendapatkan kesempatan menjadi seorang Komandan nantinya, dengan harapan agar lebih bisa menjadi pemimpin dari pada menjadi seorang Komandan

Terima kasih telah bersedia membaca, semoga bermanfaat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kuantitas tidak menjamin tercapainya tujuan

Sebelumnya saya sangat berterima kasih kepada Tuhan YME yang tidak henti-hentinya memberikan nikmat kepadaku, betapa merasa beruntungnya diriku menjadi manusia yang mampu merasakan kasih sayang Tuhan, dan saya pun yakin semua ini juga bukan hal yang tiba-tiba dan juga bukan karena kelebihan diriku namun semata-mata hanya atas karena perkenaannya, hanya karena ijinya sehingga diriku termasuk orang-orang yang mampu bersyukur, betapa besar kasihMu yang tak pernah melupakanku dalam setiap detik waktuku meskipun tidak jarang diriku lupa dan mengabaikanMu, "My GOD you are the real, truly GOD of me" without You i am Nothing" please guiding me and protect me all the time i have.          Kebahagiaan, kepuasan, dan kemuliaan adalah tujuan kehidupan dari mayoritas manusia yang hidup di dunia, bahkan tidak sedikit dari mereka yang berusaha untuk mendapatkannya dengan berbagai macam cara, parahnya cara-cara yang tidak dilegalkan pun menjadi alternatif pilihannya, 

Nasehat Orang tua

Beruntunglah bagi orang-orang yang telah diberikan hidayah untuk senantiasa mengenal dan mendalami Islam sebagai agamanya, terlebih bagi orang-orang terpilih yang sedari awal ditakdirkan oleh Allah menjadi bagian dari islam, dia sejak lahir sudah dilahirkan dan berasal dari keluarga muslim, karena itulah anugerah dari Tuhan, tentu menjadi anak siapa adalah diluar kehendak atau kemampuan manusia, maka hendaknya disyukuri jika kita telah berada di jalan yang sudah tepat, sehingga tak perlu lagi berjuang cukup keras untuk menjemput hidayahnya, meskipun demikian modal hanyalah modal namun berkembang dan tidaknya, keyakinan tetap membutuhkan perjuangan supaya tetap terpelihara dengan baik.  . Jika berbicaya masalah pemeliharaan tingkat keimanan mungkin akan kita bahas pada kesempatan berikutnya, pada kesempatan kali ini saya ingin menulis, lebih jelasnya yaitu mengabadikan memori saya melalui aktivitas baca, yang sangat disayangkan jika memori itu lewat begitu saja, sehingga kali ini ke...

Chit chat

Tulisan ini saya awali dari sebuah aktivitas kecil yang mungkin semua orang pernah menjalaninya, sebut saja aktivitas ngobrol yg hampir semua orang lakukan ketika mereka memiliki waktu luang diluar rutinitasnya, Ngobrol ini bagi sebagian orang diterjemahkan sebagai sebuah kebutuhan entah itu kebutuhan sosialisasi, kebutuhan aktualisasi, sampai dengan kebutuhan saling bertukar informasi, paling tidak ngobrol bisa dijadikan sarana curhat untuk mengurangi beban pikiran ....cieee...curhat ne yeee.....!!! bahkan ada juga yang berhasil membuat sebuah terminologi baru dari aktivitas ngobrol ini, dan saya jamin ga bakal ketemu dikamus manapun artinya "theng-theng crit"  (istilah itu di adopsi dari kalimat thenguk-thenguk Crito, dalam bahasa indonesia kurang lebihnya dapat diartikan nongkrong-nongkrong sambil bercerita)...hehhe, ya begitulah kreativitas kaum theng-theng crit, tanpa mengenal batas, selalu menjadi yg terdepan dalam berkarya...karya ngarang2...wkwkwkw, yg jelas tidak sem...