Pertama saya awali dengan jadwal rutin yang biasa kita lakukan, katakanlah saya pada saat ini sedang bekerja disebuah instansi, yang bisa dikatakan instansi ini cukup terjadwal sehingga hampir sebagian besar rutinitas dan pola pekerjaannya dapat dibaca dengan sangat baik, artinya didalam instansi ini tidak begitu banyak dinamika - dinamika baru yang biasanya cukup membuat kita - kita terdadak karena seringkali bersifat kejutan. sehingga kami cukup merasa nyaman dengan hal itu, meskipun dalam hati, hal tersebut sangat bertentangan dengan tuntutan tugas tugas satuan tempur jikalau nanti kita mendapatkan tugas-tugas yang mengharuskan untuk siap menghadapi segala macam dinamika yang sewaktu-waktu dapat terjadi dan mengharuskan kita untuk terjun didalamnya,
.
.
tapi berbicara masalah instansi pada dasarnya setiap instansi memiliki tingkat kegiatan dan kesiapsiagaan yang disesuaikan dengan tingkat urgenitasnya, sehingga menurut saya memang semuanya harus disesuaikan dengan porsi masing-masing berdasarkan tuntutan tugasnya, singkat kata jika kondisi instansi saya yang mengharuskan kita mengikuti pola kegiatan yang tidak banyak dinamika, sudah seharusnya kita menyadari bahwa itu merupakan bagian tuntutan organisasi yang memang harus kita ikuti, justru jika kita tidak mengikuti pola tersebut, maka secara tidak langsung optimalisasi terhadap mekanisme kegiatan yang sudah terpola akan menjadi tidak optimal. Dengan demikian kita harus merubah mind set yang awalnya sebagian besar masih diperngaruhi oleh lingkungan tugas sebelumnya, segera menyesuaikan dengan tuntutan tugas dan karakteristik satuan dimana kita ditugaskan, karena dengan demikian kita akan mampu membaca urgenitas setiap permasalahan yang harus kita optimalkan.
.
Selanjutnya pembelajaran bagi saya pribadi bahwa menjadi seorangan komandan itu sangat gampang tetapi untuk menjadi seorang pemimpin itu membutuhkan banyak hal, salah satunya memilih metode kita dalam memimpin itu sebuah persoalan tersendiri yang tidak mudah untuk ditentukan dan dijawab, banyak faktor yang mempengaruhinya, sebagai contoh pemimpin harus paham kapan dan dimana dia memimpin, karena setiap pemimpin dibatasi oleh ruang dan waktu, kata pak TB Silalahi "Pemimpin itu ada tempat dan waktunya", sehingga untuk dapat diterima sebagai seorang pemimpin menurut hemat saya kita harus paham betul dimana kita memimpin, kalo pemimpin itu lebih cenderung pada sebuah kebijakan, beda halnya dengan komandan, jikalau untuk menjadi seorang komandan, cukup lah aturan sebagai pedoman kita, namun didalam kenyataaannya aturan tidak selamanya dapat menyelesaikan masalah, semua butuh sentuhan-sentuhan kepemimpinan agar tujuan pokok dapat tercapai.
.
Sekarang kita kembalikan lagi apakah semua kebijakan yang kita keluarkan sudah menyentuh apa arti dari sebuah kepemimpinan, atau justru hanya sekedar menegakkan aturan saja. Dan menurut saya itu itu adalah sebuah pilihan, saya yakin semua punya basic dan kemampuan untuk melakukan itu semua, tapi tidak banyak Komandan yang mau untuk menyeimbangkan fungsi pemimpin dan fungsi komandan
.
Jika masih bertanya-tanya, mungkin saya ada sedikit hal sebagai bahan masukan dan saran bagi para pembaca yang kebetulan sempat meluangkan waktu untuk membaca tulisan ga jelas saya ini, saran saya, dengan keadaan dan kondisi kita saat ini yang tidak banyak tau dan tentunya kita tidak semuanya memiliki pengalaman tugas yang sama, sehingga alangkah baiknya jika kita banyak mencari tahu tentang apa yang menurut kita penting didalam mendukung proses transformasi komandan menjadi seorang pemimpin, dan yang paling penting jangan pernah menggunakan asumsi pribadi berdasarkan pengalaman tugas sebagai acuan, sehingga kita perlu untuk mencari sudut pandang lain sebagai bahan pembanding, karena tentunya subyektivitas tidak akan pernah menjadi obyektif tanpa kita merubah sudut pandang subyektivitas kita menjadi obyektif.
.
Tentunya dengan kita banyak mengumpulkan sumber keterangan, setidaknya akan membuka wawasan berpikir kita yang semula bersifat subyektif menjadi obyektif.
.
Mohon maaf jika banyak salahnya, selaku "commoner" orang biasa yang tentunya tidak luput dari kesalahan saya meminta maaf yang sebesar-besarnya, dan yang paling penting tulisan ini pure sebagai pengingat saya sendiri jikalau saya mendapatkan kesempatan menjadi seorang Komandan nantinya, dengan harapan agar lebih bisa menjadi pemimpin dari pada menjadi seorang Komandan
Terima kasih telah bersedia membaca, semoga bermanfaat.
Komentar
Posting Komentar