Tulisan ini saya awali dari sebuah aktivitas kecil yang mungkin semua orang pernah menjalaninya, sebut saja aktivitas ngobrol yg hampir semua orang lakukan ketika mereka memiliki waktu luang diluar rutinitasnya, Ngobrol ini bagi sebagian orang diterjemahkan sebagai sebuah kebutuhan entah itu kebutuhan sosialisasi, kebutuhan aktualisasi, sampai dengan kebutuhan saling bertukar informasi, paling tidak ngobrol bisa dijadikan sarana curhat untuk mengurangi beban pikiran ....cieee...curhat ne yeee.....!!!
bahkan ada juga yang berhasil membuat sebuah terminologi baru dari aktivitas ngobrol ini, dan saya jamin ga bakal ketemu dikamus manapun artinya "theng-theng crit" (istilah itu di adopsi dari kalimat thenguk-thenguk Crito, dalam bahasa indonesia kurang lebihnya dapat diartikan nongkrong-nongkrong sambil bercerita)...hehhe, ya begitulah kreativitas kaum theng-theng crit, tanpa mengenal batas, selalu menjadi yg terdepan dalam berkarya...karya ngarang2...wkwkwkw, yg jelas tidak semua aktivitas ngobrol selalu identik dgn hal yg negatif, justru dgn ngobrol setidaknya dpt terjadi pertukaran informasi dan ilmu yg sangat bermanfaat, contohnya seperti pengalaman saya ngobrol bersama dgn senior yg hebat dan luar biasa dan pastinya dr beliau banyak ilmu yang bisa saya dapatkan.
singkat cerita, obrolan demi obrolkan berlangsung, dari topik ringan sampai dengan obrolan tingkat tinggi.....yang membuat sekali kali prosessor otak saya nge hang ...hehe, namun pada akhirnya seolah ada angin segar yang mampu mendinginkan hampir disemua bagian komponen diri saya, terutama hati dan pikiran yg sejak dr tadi memanas, setelah senior saya menyampaikan beberapa poin yang menurutku sangat bermanfaat terutama dalam kehidupan.
perta, beliau menyampaikan bahwa beliau memiliki keyakinan jika ibadah bukanlah transaksional, keridhoan Tuhan bukan dilihat dr besar kecilnya pahala yg didapatkan tetapi hal tersebut tak lebih sekedar dari bagian kecil dari sebuah tujuan besar yaitu mendapatkan ridho dan cinta kasih dari sang pencipta, mendengar penuturan beliau teringat saya pada sebuah cerita tentang kisah Imam besar yang menceritakan pengalaman spiritualnya tentang Imam Alghozali dgn seekor lalat, yang pada intinya cerita itu mengajarkan kepada kita agar tdk meremehkan amalan sekecil apapun, karena boleh jadi karena amalan yg kita anggap kecil dan sepele itulah yang kemudian mengantarkan kita ke surga ataupun ke neraka nantinya.
Selanjutnya disela-sela percakapan, terucap kalimat yang cukup membuat pikiran saya lebih terbuka, beliau mengatakan "Dalam kondisi apapun kita, sejatinya itu adalah situasi yg disiapkan Tuhan untuk kita, tergantung bagaimana diri kita menyikapinya, ibarat sebuah ladang, akan menghasilkan dan bermanfaat, jika kita megelolanya secara baik dan tepat" mendengar penuturannya timbul keinginanku utk pengen cepet-cepet beli ladang.....hehehe, tp blum punya uangπ€£π€£π€£, eh sorry itu hanya analogi.
lantas beliau melanjutkan dengan sebuah cerita pengalaman yang menurutku sangatlah menarik, yang kemudian membuat beliau hingga pada titik sekarang, yg berdasarkan kacamataku termasuk titik yang cukup cerah bagi seorang perwira selevel beliau. Pada intinya beliau menyampaikan sebuah langkah perubahan dalam hidup, sebut saja "Hijrah". Awalnya saya sedikit bingung ketika beliau mengungkapkan bahwa keputusan besarnya itu terinspirasi dr sebuah media sosial, lantas spontan membuatku bertanya " kok bisa komandan?", Singkat kata beliau akhirnya bercerita bahwa banyak hal yg beliau alami selama mengarungi samudra kehidupan terutama dalam kedinasannya,m dari momen kecil sampai dengan momen yg besar, dari kejadian sepele sampai dengan kejadian yg sangat penting, termasuk dari hal-hal yang jelas sampai dengan hal2 yang abstrak, dan juga dari yang putih hingga sampai dengan yang hitam sekalipun. Kemudian sampai pada suatu waktu beliau menemukan sebuah quote dr sebuah platform media sosial bahwa titik balik seseorang ada pada usia 40th, maka diusia itulah yang akan menentukan kemana tujuan manusia hidup, sehingga usia 40th adalah masa kritis yg akan menentukan konsistensi sikapnya kedepan, mau jalannya lurus atau menyimpang selamanya .......πππ, dan selamanya tak akan pernah kembali
ke jalan yang benar, kalaupun bisa mungkin sangat sulit kali ya.....hehehe, "Allahua'lam Bishowab".
Sejak itulah beliau sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan dalam bertindak, boleh dibilang "return to home or back to the right path"..hehe, mohon maaf jika terlalu lebay ilustrasinya ...hihi
dan dalam perjalanannya lagi2 mucullah terminologi baru "Dosa konsumtif dan Dosa Produktif" Karena beliau sadar bahwa manusia tdk akan lepas dr perbuatan dosa paling tidak ada upaya utk meminimalisir, sehingga lahirlah 2 terminologi dosa tersebut.
Semakin lama semakin pusing saya dibuatnya lebih-lebih banyak istilah yang harus saya pahami, "ijin apa artinya itu Komandan?" tanyaku dgn penuh penasaran.
lalu dengan gamblang beliau menjelaskan, "Dosa konsumtif adalah perbuatan dosa yang kita lakukan namun tiada membawa manfaat sedikitpun baik secara langsung maupun tdk langsung, bahkan ironisnya hanya menambah dosa saja, contohnya perbuatan dosa yg bertujuan supaya diberi penilaian lebih oleh orang lain dan org lain tsb tak ada pengaruhnya sama sekali dgn diri kita" Jawabnya dengan serius, "Berarti kalo beliau bercerita bohong pada saya termasuk salah satu dosa konsumtif, kan klo saya tentu g ayak pangaruhna buat beliau" kata saya dalam hati ....hehehe....
"sebaliknya Dosa Produktif adalah perbuatan dosa yang kita lakukan namun ada tujuannya dan membawa manfaat dalam kehidupan kita" sambung beliau melanjutkan penjelasannya.
Di penghujung obrolan kita beliau mencoba menyampaikan sebuah nasehat yg pernah beliau terima dan menurutku sangat relevan dihadapkan dengan kehidupan kita sebagai seorang prajurit terutama bagi perwira-perwira yang memiliki jenjang karir yang panjang. Pada intinya nasehat tersebut adalah tentang filosofi pangkat perwira, dimulai dari pangkat pama yang menurut nasehat tersebut pangkat pama yang berupa susunan balok merupakan gambaran bahwa pama dalam menjalani tugasnya harus senantiasa tegak lurus melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara murni dan konsekwen, selanjutnya pangkat perwira menengah yang disimbolkan dengan bunga melati, dengan harapan pada masa ini seorang perwira harus mampu menebarkan bau harum dimana mana, selanjutnya yang paling terakhir adalah pangkat pati yang diwujudkan dengan simbol bintang, bintang adalah benda langit yang mampu memancarkan cahaya sendiri, dan dicontohkan salah satu bintang di alam raya ini adalah matahari, yang mampu memberikan penerangan bagi sekelilingnya dan bagi bumi matahari adalah sumber penghidupan, namun ketika matahari tersebut tidak dalam posisi yang tepat dan jarak yg sesuai....mungkin sebaliknya matahari justru tdk akan menjadi sumber kehidupan melainkan sumber petaka, yg akan membakar setiap planet yg berada didekatnya termasuk
bumi seisinya...πππ
Filosofi pkt ini mungkin saja tidak berlaku umum bagi semua prajurit TNI AD, tetapi setidaknya dapat menambah masukan dan saran bagi semua perwira TNI AD agar lebih bijak dalam memikul beban pangkat sebagai perwira TNI AD.
Demikianlah sedikit ilmu yang bersumber dari obrolan kecil tak berarti tetapi menyimpan manfaat yang luar biasa, semoga ada guna dan manfaatnya bagi kita semua, mohon maaf jika banyak kalimat yang kurang pas, dan saya ucapkan beribu-ribu terima kasih telah berkenan membaca.
Assalamulaikum Wr, Wb. Herman Santoso
Komentar
Posting Komentar